Kawan,
Bila cinta, kasih dan sayang adalah nafas kehidupan kita, peliharalah cintamu, rawat dan jaga rasa kasih sayangmu,,, !
yang utama dan yang pertama adalah untuk orang yang mengasuh dan membesarkan kita, yaitu orang tua kita ayah dan ibu.
Karena cinta kasih dan sayang mereka tiada batas untuk buah hatinya (anak).


Kawan,
Hidup dalam kesendirian ternyata tak mudah,
seperti apa yang ku alami saat ini.
Ayahnda tercinta telah dipanggil oleh-NYA,
padahal aku belum bisa membalas perjuangan bliau hingga aku seperti ini,
rasa penyesalan teramat dalam selalu hadir dalam hidupku..
Sedangkan ibu kini jauh disana..
Rasa rindu ku untuk menikmati hangatnya kasih sayang orang tua,
Rasa rindu ku untuk memeluk mreka,,,


Kawan,
Bila kedua orang tuamu masih utuh, dan masih bersamamu,
cintailah beliau, patuhilah beliau,
dan jadilah anak yang berbakti!!!
Krena jika mereka telah tiada, hanya penyesalan yg selalu mnyelimuti kita karena jita merasa belum pernah bisa bahagiakanya,,,
KALAU SUDAH TIADA, BARU TERASA.

By: MITA production

Minggu, 08 Januari 2012

Inilah Arti "CINTA" yang Sejati

Sumber Gambar: ummi.forumotion.ne



Cinta Sejati menurut kaca mata Islam:
  1. Tidak akan rela yang dicintai menderita, bersedih
  2. Rela berkorban apapun itu, sesakit apapun itu demi yang dicintai
  3. Memenuhi segala keinginannya
  4. Tidak memaksakan kehendak kepada sang pujaan hati
  5. Abadi (tiada rasa bosan)
Dengan syarat :
  • Cintanya tersebut hanya karena Allah SWT semata
  • Harus memenuhi syari'at Islam
  • Sex bukanlah cinta dan cinta bukanlah sex, tetapi sex adalah bunga-bunga dari cinta dan hanya ada dalam pernikahan dan hanya dengan yang dinikahi
  • Cinta bukan uang, harta, pangkat, jabatan (duniawi) ,tetapi cinta membutuhkan uang, harta dan duniawi, Karena kita masih hidup di dunia ini,
    BILA KITA MENCINTAI AKHIRAT, DUNIA PASTI MENGIKUTI......................!!!
    Semoga bermanfaat!!

    by; putrajelokdesigncreated
  • Apa itu "Tenaga Dalam?"

    Sumber Foto: FlashVortex.com


    Tenaga dalam atau kekuatan dalam merupakan kakuatan abstrak atau kekuatan rohani (kekuatan bathin). Kekuatan dalam ini biasanya muncul dari alam bawah sadar. Contoh bendanya seperti sebongkah es batu yang dimasukkan ke dalam air tawar. Sama-sama dari "air", es akan mengapung di atas air tawar. Nampaknya es batu itu keras dan kuat (ibarat tenaga fisik), tetapi kekuatannya kalah dengan air tawar (ibarat tenaga dalam). Bongkahan es tidak mampu tenggelam karena adanya daya dorong dari dalam air tawar ke atas. Bagian yang di bawah air jauh lebih besar dari bagian yang di atas'

    Begitu juga dengan "tenaga dalam", daya kekuatan tenaga dalam memang lebih besar daripada kekuatan tenaga luar. Karena tenaga dalam ini berada dibagian yang lebih dalam dari kekuatan luar (fisik), maka banyak juga orang yang menyebut tenaga dalam dengan "tenaga cadangan" atau "tenaga inti" atau "tenaga dasar".

    Sayang, tidak semua orang menyadari bahwa sebenarnya dirinya memiliki "tenaga cadangan" yang hebat.

    Demikian sedikit ulasan saya mengenai "tenaga dalam",,,
    Akan saya tulis lebih detail lagi pada kesempatan berikutnya.
    Sedikit, semoga bermanfaat,,, AMIIN.

    Kamis, 05 Januari 2012

    POERWOREDJO TEMPOE DOELOE (( I LOVE POERDO ))

    sumber: purworejo.asia

     


    Seperti ini kira - kira Kota kita tercinta pada tahon 70-an...

    Timur Rumah Dinas Bupati
    Sekarang di sebelah timur rumah dinas bupati berdiri kantor kejaksaan dan kantor tiga parpol. Pada awal tahun 70-an, tempat itu adalah lapangan terbuka yang pada waktu sore digunakan orang untuk olah raga memanah. Para pemanah duduk bersila di sebelah timur dan sasaran panah ditempatkan di sebelah barat di dekat tembok rumah dinas bupati. Tiap pemanah mempunyai satu sasaran panah tersendiri yang bentuknya bulat bermotif lingkaran-lingkaran dengan satu bulatan sebagai pusatnya. Ternyata Purworejo pernah mempunyai atlit memanah tradisional. Apakah sekarang masih ada yah?

    Belakang Rumah Dinas Bupati
    Pada tahun 70-an, belakang rumah dinas bupati adalah lapangan terbuka yang dapat di lihat dari jalan. Kini di situ telah berdiri warung-warung atau rumah-rumah sehingga lapangan tertutupi. Apakah tanah di situ milik negara? Ataukah tanah itu telah dijual, di sewa, atau bukan kedua-duanya?

    Gedung Bioskup
    Pada awal tahun 70-an, semula Purworejo hanya mempunyai 1 gedung bioskup yaitu gedung bioskup Bagelen. Dalam memutar film, gedung bioskup ini bekerja sama dengan gedung bioskup Pelangi di Kutoarjo. Satu unit film dimainkan bersama dalam satu hari dengan jadwal pemutaran yang berselisih kurang lebih 30 menit. Film diputar pada jam 5, 7, dan 9 malam. Harga tiket dibagi menurut kelas berdasarkan jarak dari layar. Kelas terdepan adalah kelas 3 dengan harga Rp 26,-; kelas 2 dengan harga Rp 40; kelas I dengan harga sekitar Rp 60,-. Filmnya kebanyakan koboi.

    Kemudian, gedung bioskup Pusaka didirikan. Sebelumnya, gedung yang digunakan adalah untuk pertunjukkan wayang orang. Sejak itu, seniman wayang orang kehilangan arena berekspresi. Sangat disayangkan! Ternyata Purworejo yang katanya berumur 1000 tahun lebih tidak bisa menyelamatkan seni wayang orang.

    Stasiun Purworejo
    Pada awal tahun 70-an, stasiun Purworejo masih disinggahi kereta api jurusan Purworejo-Kutoarjo. Keretanya adalah kereta uap yang berwarna hitam. Suara uapnya jas-jes-jas-jes. Penumpangnya banyak dan banyak pedagang gerabah yang memanfaatkan jasa kereta yang tinggal kenangan ini.

    Terminal Bis
    Pada awal tahun 70-an, terminal bis tidak begitu luas dan terletak di pojok timur laut alun-alun purworejo di utara pohon beringin barat kantor pos.

    Pantok
    Konon, Pantok berasal dari bahasa Belanda, van Tok. Pada awal tahun 70-an, Pantok menjadi pusat perdagangan durian. Perempatan Pantok waktu itu sempit dengan ujung perempatan yang membentuk sudut 90 derajat. Lampu penerangan adalah lampu pijar yang tidak mempu menerangi seluruh penjuru perempatan. Oleh karena itu, penjual durian menggunakan oncor/obor sebagai alat penerangan.

    Pasar Pagi
    Pada awal tahun 70-an, mulai dari Pantok ke timur digunakan untuk pasar pagi. Pasar mulai aktif sekitar jam 3 pagi dan berakhir sekitar jam 6 pagi. Pedagang berdatangan dari arah timur dengan berjalan kaki dengan oncor/obornya atau dengan gerobak yang rodanya bergaris tengah setinggi gerobak. Oncor dibuat dari bambu berisi minyak tanah yang ujungnya ditutup kain. Kain yang berminyak tanah disulut api sehingga menjadi menyala. Kalau nyalanya redup, obor dimiringkan agar minyak membasahi kain penutup.

    Liong Pandekluweh
    Konon, Pandekluweh berasal dari bahasa Belanda van de kluwih. Pada awal tahun 70-an, masyarakat kampung ini berpartisipasi aktif dalam karnaval tujubelasan dan selalu menjadi bintang (menurut saya). Sajian andalannya adalah kesenian tionghoa liong. Liongnya bermata mencorong karena matanya terbuat dari dua lampu baterai. Sebelum diarak dalam karnaval, liong itu disemayamkan di klenteng belakang pasar Baledono. Setelah karnaval selesai, Liognya dibakar di sungai Bogowonto.

    Mesin Bertenaga Air
    Pada awal tahun 70-an, di sebelah barat kampung Pandekluwih ada mesin bertenaga air. Air sungai kedung putri di alirkan ke saluran khusus untuk menggerakkan roda besar sekali. Selanjutnya, roda besar tadi akan menggerakkan roda mesin yang lebih kecil. Seingat saya, mesin itu pernah digunakan pabrik kayu gergajian dan pabrik es balok. Letaknya di sebelah utara pintu air.

    Ikan di Sungai
    Pada awal tahun 70-an, sungai Bogowonto masih banyak ikannya. Kalau kita menyelam dan membuka matanya, kita bisa melihat ikan kecil banyak jumlahnya. Sementara itu, aliran irigasi bernama sungai kedung putri yang melewati kota juga masih banyak ikannya. Jika sungai ini tidak dialiri, banyak masyarakat yang berduyun-duyun berebut mancari ikan. Kini semua itu tinggal kenangan.

    Hotel Indra
    Dulu ada hotel di Jl. A. Yani di antara Buh Menceng dan Pantok. Kini ia digunakan untuk agen bis. Hotel Indra termasuk hotel no 1 di Purworejo pada tahun 70-an. Namun, kadang-kadang, hotel itu disewakan untuk pesta pernikahan warga tionghoa.

     Semoga bermanfaat.

    Sumber: Geblex
    sumedi.net

    Selasa, 03 Januari 2012

    CONTOH PUISI PUISI - CHAIRIL ANWAR

    PRAJURIT JAGA MALAM

    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
    Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
    bermata tajam
    Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
    kepastian
    ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
    Aku suka pada mereka yang berani hidup
    Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
    Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

    (1948)
    Siasat,
    Th III, No. 96
    1949


    MALAM

    Mulai kelam
    belum buntu malam
    kami masih berjaga
    --Thermopylae?-
    - jagal tidak dikenal ? -
    tapi nanti
    sebelum siang membentang
    kami sudah tenggelam hilang

    Zaman Baru,
    No. 11-12
    20-30 Agustus 1957



    KRAWANG-BEKASI

    Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
    tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
    Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
    terbayang kami maju dan mendegap hati ?

    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
    Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
    Kenang, kenanglah kami.

    Kami sudah coba apa yang kami bisa
    Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

    Kami cuma tulang-tulang berserakan
    Tapi adalah kepunyaanmu
    Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

    Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
    atau tidak untuk apa-apa,
    Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
    Kaulah sekarang yang berkata

    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

    Kenang, kenanglah kami
    Teruskan, teruskan jiwa kami
    Menjaga Bung Karno
    menjaga Bung Hatta
    menjaga Bung Sjahrir

    Kami sekarang mayat
    Berikan kami arti
    Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

    Kenang, kenanglah kami
    yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
    Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

    (1948)
    Brawidjaja,
    Jilid 7, No 16,
    1957






    PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

    Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
    Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
    dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
    Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
    Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
    Aku sekarang api aku sekarang laut

    Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
    Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
    Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

    (1948)

    Liberty,
    Jilid 7, No 297,
    1954

    AKU

    Kalau sampai waktuku
    'Ku mau tak seorang kan merayu
    Tidak juga kau

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang

    Biar peluru menembus kulitku
    Aku tetap meradang menerjang

    Luka dan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang pedih peri

    Dan aku akan lebih tidak perduli

    Aku mau hidup seribu tahun lagi

    Maret 1943

    PENERIMAAN

    Kalau kau mau kuterima kau kembali
    Dengan sepenuh hati

    Aku masih tetap sendiri

    Kutahu kau bukan yang dulu lagi
    Bak kembang sari sudah terbagi

    Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

    Kalau kau mau kuterima kembali
    Untukku sendiri tapi

    Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

    Maret 1943


    HAMPA

    kepada sri

    Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
    Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
    Sampai ke puncak. Sepi memagut,
    Tak satu kuasa melepas-renggut
    Segala menanti. Menanti. Menanti.
    Sepi.
    Tambah ini menanti jadi mencekik
    Memberat-mencekung punda
    Sampai binasa segala. Belum apa-apa
    Udara bertuba. Setan bertempik
    Ini sepi terus ada. Dan menanti.

    DOA

    kepada pemeluk teguh

    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut namamu

    Biar susah sungguh
    mengingat Kau penuh seluruh

    cayaMu panas suci
    tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

    Tuhanku

    aku hilang bentuk
    remuk

    Tuhanku

    aku mengembara di negeri asing

    Tuhanku
    di pintuMu aku mengetuk
    aku tidak bisa berpaling

    13 November 1943


    SAJAK PUTIH

    Bersandar pada tari warna pelangi
    Kau depanku bertudung sutra senja
    Di hitam matamu kembang mawar dan melati
    Harum rambutmu mengalun bergelut senda

    Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
    Meriak muka air kolam jiwa
    Dan dalam dadaku memerdu lagu
    Menarik menari seluruh aku

    Hidup dari hidupku, pintu terbuka
    Selama matamu bagiku menengadah
    Selama kau darah mengalir dari luka
    Antara kita Mati datang tidak membelah...


    SENJA DI PELABUHAN KECIL
    buat: Sri Ajati

    Ini kali tidak ada yang mencari cinta
    di antara gudang, rumah tua, pada cerita
    tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
    menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

    Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
    menyinggung muram, desir hari lari berenang
    menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
    dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

    Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
    menyisir semenanjung, masih pengap harap
    sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
    dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

    1946


    CINTAKU JAUH DI PULAU

    Cintaku jauh di pulau,
    gadis manis, sekarang iseng sendiri

    Perahu melancar, bulan memancar,
    di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
    angin membantu, laut terang, tapi terasa
    aku tidak 'kan sampai padanya.

    Di air yang tenang, di angin mendayu,
    di perasaan penghabisan segala melaju
    Ajal bertakhta, sambil berkata:
    "Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

    Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
    Perahu yang bersama 'kan merapuh!
    Mengapa Ajal memanggil dulu
    Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

    Manisku jauh di pulau,
    kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

    1946



    MALAM DI PEGUNUNGAN

    Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
    Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
    Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
    Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

    1947


    YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

    kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
    menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
    malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

    di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

    aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
    dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
    tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

    tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

    1949


    DERAI DERAI CEMARA

    cemara menderai sampai jauh
    terasa hari akan jadi malam
    ada beberapa dahan di tingkap merapuh
    dipukul angin yang terpendam

    aku sekarang orangnya bisa tahan
    sudah berapa waktu bukan kanak lagi
    tapi dulu memang ada suatu bahan
    yang bukan dasar perhitungan kini

    hidup hanya menunda kekalahan
    tambah terasing dari cinta sekolah rendah
    dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
    sebelum pada akhirnya kita menyerah

    1949