![]() |
| sumber: purworejo.asia |
Timur Rumah Dinas Bupati
Sekarang di sebelah timur rumah dinas bupati berdiri kantor kejaksaan dan kantor tiga parpol. Pada awal tahun 70-an, tempat itu adalah lapangan terbuka yang pada waktu sore digunakan orang untuk olah raga memanah. Para pemanah duduk bersila di sebelah timur dan sasaran panah ditempatkan di sebelah barat di dekat tembok rumah dinas bupati. Tiap pemanah mempunyai satu sasaran panah tersendiri yang bentuknya bulat bermotif lingkaran-lingkaran dengan satu bulatan sebagai pusatnya. Ternyata Purworejo pernah mempunyai atlit memanah tradisional. Apakah sekarang masih ada yah?
Belakang Rumah Dinas Bupati
Pada tahun 70-an, belakang rumah dinas bupati adalah lapangan terbuka yang dapat di lihat dari jalan. Kini di situ telah berdiri warung-warung atau rumah-rumah sehingga lapangan tertutupi. Apakah tanah di situ milik negara? Ataukah tanah itu telah dijual, di sewa, atau bukan kedua-duanya?
Gedung Bioskup
Pada awal tahun 70-an, semula Purworejo hanya mempunyai 1 gedung bioskup yaitu gedung bioskup Bagelen. Dalam memutar film, gedung bioskup ini bekerja sama dengan gedung bioskup Pelangi di Kutoarjo. Satu unit film dimainkan bersama dalam satu hari dengan jadwal pemutaran yang berselisih kurang lebih 30 menit. Film diputar pada jam 5, 7, dan 9 malam. Harga tiket dibagi menurut kelas berdasarkan jarak dari layar. Kelas terdepan adalah kelas 3 dengan harga Rp 26,-; kelas 2 dengan harga Rp 40; kelas I dengan harga sekitar Rp 60,-. Filmnya kebanyakan koboi.
Kemudian, gedung bioskup Pusaka didirikan. Sebelumnya, gedung yang digunakan adalah untuk pertunjukkan wayang orang. Sejak itu, seniman wayang orang kehilangan arena berekspresi. Sangat disayangkan! Ternyata Purworejo yang katanya berumur 1000 tahun lebih tidak bisa menyelamatkan seni wayang orang.
Stasiun Purworejo
Pada awal tahun 70-an, stasiun Purworejo masih disinggahi kereta api jurusan Purworejo-Kutoarjo. Keretanya adalah kereta uap yang berwarna hitam. Suara uapnya jas-jes-jas-jes. Penumpangnya banyak dan banyak pedagang gerabah yang memanfaatkan jasa kereta yang tinggal kenangan ini.
Terminal Bis
Pada awal tahun 70-an, terminal bis tidak begitu luas dan terletak di pojok timur laut alun-alun purworejo di utara pohon beringin barat kantor pos.
Pantok
Konon, Pantok berasal dari bahasa Belanda, van Tok. Pada awal tahun 70-an, Pantok menjadi pusat perdagangan durian. Perempatan Pantok waktu itu sempit dengan ujung perempatan yang membentuk sudut 90 derajat. Lampu penerangan adalah lampu pijar yang tidak mempu menerangi seluruh penjuru perempatan. Oleh karena itu, penjual durian menggunakan oncor/obor sebagai alat penerangan.
Pasar Pagi
Pada awal tahun 70-an, mulai dari Pantok ke timur digunakan untuk pasar pagi. Pasar mulai aktif sekitar jam 3 pagi dan berakhir sekitar jam 6 pagi. Pedagang berdatangan dari arah timur dengan berjalan kaki dengan oncor/obornya atau dengan gerobak yang rodanya bergaris tengah setinggi gerobak. Oncor dibuat dari bambu berisi minyak tanah yang ujungnya ditutup kain. Kain yang berminyak tanah disulut api sehingga menjadi menyala. Kalau nyalanya redup, obor dimiringkan agar minyak membasahi kain penutup.
Liong Pandekluweh
Konon, Pandekluweh berasal dari bahasa Belanda van de kluwih. Pada awal tahun 70-an, masyarakat kampung ini berpartisipasi aktif dalam karnaval tujubelasan dan selalu menjadi bintang (menurut saya). Sajian andalannya adalah kesenian tionghoa liong. Liongnya bermata mencorong karena matanya terbuat dari dua lampu baterai. Sebelum diarak dalam karnaval, liong itu disemayamkan di klenteng belakang pasar Baledono. Setelah karnaval selesai, Liognya dibakar di sungai Bogowonto.
Mesin Bertenaga Air
Pada awal tahun 70-an, di sebelah barat kampung Pandekluwih ada mesin bertenaga air. Air sungai kedung putri di alirkan ke saluran khusus untuk menggerakkan roda besar sekali. Selanjutnya, roda besar tadi akan menggerakkan roda mesin yang lebih kecil. Seingat saya, mesin itu pernah digunakan pabrik kayu gergajian dan pabrik es balok. Letaknya di sebelah utara pintu air.
Ikan di Sungai
Pada awal tahun 70-an, sungai Bogowonto masih banyak ikannya. Kalau kita menyelam dan membuka matanya, kita bisa melihat ikan kecil banyak jumlahnya. Sementara itu, aliran irigasi bernama sungai kedung putri yang melewati kota juga masih banyak ikannya. Jika sungai ini tidak dialiri, banyak masyarakat yang berduyun-duyun berebut mancari ikan. Kini semua itu tinggal kenangan.
Hotel Indra
Dulu ada hotel di Jl. A. Yani di antara Buh Menceng dan Pantok. Kini ia digunakan untuk agen bis. Hotel Indra termasuk hotel no 1 di Purworejo pada tahun 70-an. Namun, kadang-kadang, hotel itu disewakan untuk pesta pernikahan warga tionghoa.
Semoga bermanfaat.
Sumber: Geblex
sumedi.net

Tidak ada komentar:
Posting Komentar